Kenali Lebih Baik Penyebab dan Gejala Difteri pada Anak

Kenali Lebih Baik Penyebab dan Gejala Difteri pada Anak
Kesehatan

Tahun 2017 lalu, penyakit difteri dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) meskipun kasusnya sudah ada sejak lama. Hal ini menandakan adanya peningkatan kasus difteri pada masyarakat termasuk kasus difteri pada anak.

Difteri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang mengakibatkan gangguan selaput lendir hidung dan tenggorokan. Bakteri penyebab difteri dinamakan Corynebacterium diphtheriae. Anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun dan orang diatas 60 tahun sangat rentan mengalami difteri.

Selain itu, kondisi lingkungan yang padat dengan sanitasi buruk, penderita malnutirisi, dan juga mereka yang belum pernah sama sekali mendapatkan vaksin difteri juga memiliki risiko tinggi terkena difteri.

Corynebacterium diphtheriae, bakteri penyebab difteri dapat memproduksi racun untuk merusak jaringan manusia, terutama di bagian hidung serta pada tenggorokan. Lalu untuk bakteri itu bisa masuk melalui mulut dan hidung ke dalam tubuh.

Difteri adalah salah satu penyakit yang sangat menular. Bakteri penyebab difteri dapat berpindah ke orang lain melalui paparan droplet atau percikan lendir penderita.

Gejala-gejala Awal Difteri

Difteri pada anak merupakan penyakit serius. Biasanya, gejala awal penderita difteri tidak langsung terlihat, melainkan muncul 2-5 hari setelah terinfeksi. Bahkan, ada yang sampai tidak sadar bahwa dirinya seorang pembawa bakteri difteri.

Gejala awal difteri mirip flu atau radang tenggorokan biasa. Namun, ada beberapa gejala awal yang perlu anda kenali dan agar jika ada yang terinfeksi bisa langsung ditangani.

Difteri akan membuat anak atau penderitanya merasa sakit tenggorokan pada awalnya. Rasa sakit tenggorokan tersebut diiringi dengan demam, meskipun hanya demam ringan yang tidak sampai 38 derajat Celcius. Demam ini bisa membuat anak menggigil dan berlangsung selama 2 hari.

Gejala lainnya adalah anak menjadi semakin sulit bernapas dan menelan. Sehingga, nafsu makan anak akan semakin menurun dan tubuhnya juga akan semakin lemas. Difteri juga menyebabkan pembengkakan di langit-langit mulut atau palatum.

Selain itu, untuk memastikan lagi, bisa dengan mengecek tenggorokan anak. Apabila terdapat lapisan atau warna putih keabu-abuan di hidung atau tenggorokan, maka anak terinfeksi difteri. Gejala ini merupakan gejala yang paling bisa dikenali untuk mengetahui difteri pada anak.

Dalam kondisi tertentu, difteri juga bisa menyebabkan paralisis atau kelumpuhan sehingga anda juga bisa mengecek difteri melalui kemampuan anak menggerakkan otot motorik seperti kaki atau tangan.

Mengatasi dan Mencegah Difteri pada Anak

Jika Anda sudah menemukan berbagai gejala difteri seperti diatas pada anak, segera bawa anak Anda ke fasilitas terdekat. Sebab difteri merupakan penyakit berbahaya yang berisiko kematian. Racun dapat masuk ke aliran darah hingga mengganggu kerja jantung serta menurunkan fungsinya memompa darah. Racun difteri juga bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal dan saraf.

Ketika anda membawa anak ke pelayanan kesehatan terdekat, dokter akan mengambil sampel abu-abu dari tenggorokan untuk memastikan apakah anak terkena difteri. Ada kemungkinan juga domter akan mengangkat lapisan tersebut karena menghambat pernapasan.

Perawatan terhadap anak bisa berbeda-beda tergantung kondisinya. Namun, pada umumnya obat yang diberikan ada dua macam.

Obat pertama adalah antitoksin yang berguna untuk menetralkan racun difteri yang beredar pada tubuh. Yang kedua adalah antibiotik yang bisa membersihkan infeksi dan membunuh bakteri.

Karena difteri merupakan penyakit menular, maka anak anda memerlukan rawat inap dan diberikan perawatan intensif serta diisolasi agar penyakitnya tidak dapat menyebar dengan mudah.

Difteri pada anak sebenarnya bisa dicegah. Pencegahan tersebut dilakukan dengan memberikan vaksin DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus). Vaksinasi diberikan pada anak saat usia 2-6 tahun, ketika usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, kemudian 5 tahun.

Namun ingat, vaksin hanya bertahan selama 10 tahun sehingga saat anak mencapai usia 12 tahun perlu diberi vaksin lagi.

Vaksin tidak hanya untuk mencegah difteri pada anak saja. Orang dewasa pun perlu vaksin, apalagi mereka yang belum pernah di vaksin sama sekali. Disarankan untuk mendapatkan booster DPT sebanyak satu kali kemudian mengulang untuk mendapat vaksin DPT setiap 10 tahun.

Difteri merupakan penyakit serius. Ketika terlihat gejala-gejala pada anak, segera hubungi dokter terdekat agar penyakit bisa disembuhkan dan anak bisa terbebas dari difteri.

shares